9.15.2010 | By: Fairynee

USAH BERSEDIH, UNI...

: Padang, 30 September 2009
Uniku sayang,
maafkan bila aku tak segera pulang  padahal
jadwal pelajaran telah lama usai,
bukan aku melanggar pesan Uni agar tak bermain selepas bimbingan.

Uniku sayang,
jangan panik; usah bimbang bila
aku belum jua tiba di rumah. tadi
Djibril menjemput dan mengajakku ke tempat yang disebut rumah Surga
rumah indah nan megah-tak seperti kontrakan kita yang sumpek.  kataNya pula
di situ emak dan abah telah menunggu.

Uniku sayang,
di sini tak ada tetangga yang suka bergunjing tak pula
temanteman jahil yang selalu menjahiliku juga
pemilik kontrakan yang enggan memberi secuil iba.

Uniku sayang,
jangan tangisi reruntuhan itu pula
debudebu yang berserak
Aku tak ada di situ.
percaya saja. Kelak aku akan menjemput, demikian janji Djibril saat
aku bertanya mengapa Uni tak diajak serta.
usah bersedih
kelak kita akan berkumpul bersama emak juga abah.
Jangan bersedih, uni…

=================================================

DI STASIUN KEBERANGKATAN (II)

Musim masih yang itu-itu saja;
terik dengan gerah membaur di udara
matahari pun enggan beranjak dari kepala
tapi kali ini,
aku mencium bau haru, juga
hati yang menggigil oleh air mata
lalu lengkingan kereta mengingatkanku
kalau cerita harus berhenti sejenak. di sini
hingga waktu mempertemukan kelak
walau ku tahu,  kau pun mengantongi entah.  
: sama seperti aku.

===================================
Note: diterbitkan di Harian Analisa (30 September 2009)

DI STASIUN KEBERANGKATAN

Simple saja, sebenarnya
aku cuma perlu  melambaikan tangan
lalu menatap awan yang berarak kian jauh
tapi,
kalau cuma itu
kenapa harus ada air mata?

-------------------------------------------------------------
Note: Diterbitkan di Harian Analisa (30 September 2009

JANJI

Ingatkah kau, 
saat itu. ketika melingkarkan cincin di jemariku. kau berucap: 
Aku berjanji akan selalu setia, mencintaimu seumur hidupku, mendampingimu hingga ajal memisahkan kita.

 Lalu Tuhan bersabda:
Demikianlah mereka bukan lagi dua tapi satu. Apa yang dipersatukan oleh Tuhan tidak dapat dipisahkan manusia kecuali oleh maut dan kematian.

(Kalau begitu, pintalah ijin dahulu pada Tuhan sebelum mengerat benang yang mengikat hatiku dan hatimu)

JEJAK HUJAN

Tiap sore selepas hujan
kau menuntunku tergesa  
menyusuri setapak berliku di belakang sekolah 
desik air di pucuk dedaunan;
riuh angin di antara ranting;
lirih jangkrik di sela rerumputan.
katamu: 
Aku suka memandang pelangi melengkung- dari tempat ini

tapi sore ini. jujur aku berujar,
: aku tak suka menatap punggungmu beranjak menjauh- dari tempat ini

(Aku mohon, menolehlah sejenak. biar binar matamu menghardik mendung di hatiku)