6.26.2011 | By: Fairynee

Day 02: Meracau perihal Kematian

Mati.

Saya tidak tahu apa-apa tentang kematian. Saya hanya tahu kematian itu adalah pasti, dan merupakan fase dari kehidupan yang musti kita lewati, hanya waktunya saja yang tidak ketahui kapan, misteri dari Sang Khalik. Karena kepastian itulah mungkin sehingga saya tidak terlalu memusingkannya apalagi berusaha ingin tahu misteri apa yang tersebunyi di balik kematian itu.

Ada yang pernah bilang, kematian itu merupakan akhir dari kehidupan, tempat peristirahatan abadi setelah perjalanan panjang yang melelahkan di dunia. Tapi dalam kitab suci, saya malah menemukan arti kematian tersendiri bagi orang yang percaya, sebagaimana yang disebutkan Paulus, sebagai awal dari kehidupan yang abadi.

Aku tidak akan menyorot lebih lagi masalah kematian itu, karena terlalu muskil. Tidak ada seorang pun yang tahu seperti apa situasi atau kondisi setelah kematian. Tapi aku tertarik membahas mengenai respon dari lingkungan sekitar saat menerima kabar kematian.

Kematian seringkali meninggalkan perasaan kehilangan dan duka yang mendalam bagi sanak keluarga, teman, rekan atau bahkan orang yang sama sekali tidak dikenal (yang terakhir ini lebih sering berlaku bagi artis atau orang terkenal). 

Saya pernah menonton satu film drama yang berjudul Rabbit Hole (dibintangi oleh Nicole Kidman dan Aaron Eckhart). Film ini bercerita tentang kondisi rumah tangga Becca dan Howie Cobert sepeninggalan Danny, anak semata wayang mereka. Kesedihan dan rasa kehilangan memunculkan masalah dalam diri mereka masing-masing, dan membentangkan jarak yang sulit untuk dilalui. Hubungan mereka menjadi dingin. Tekanan kian terasa ketika adik perempuan Becca menyampaikan kabar mengenai kehamilannya.

Meski mereka berusaha untuk keluar dari lingkaran kesedihan itu dengan mengikuti sebuah klub/ perkumpulan yang terdiri dari pasangan-pasangan yang mengalami hal yang sama, sama sekali tidak menolong apa-apa, bahkan Becca memutuskan untuk keluar dari klub itu dan menjalin hubungan yang aneh dengan Jason, maha siswa yang menyebabkan kematian Danny, putranya.


Film tersebut menyiratkan betapa kematian menimbulkan duka yang mendalam, bahkan traumatik seumur hidup. Ada pula yang begitu takut menghadapi kematian dan berusaha mencari cara untuk bisa hidup lebih lama, bahkan menempuh cara-cara yang tidak masuk akal. Kematian itu seperti teror, kapan saja dan di mana saja, kematian bisa menghampiri.
 
Saya pernah membaca cerpen yang dimuat di salah media, berjudul Pemakaman yang Bahagia oleh Sungging Raga. Dalam cerpen ini diceritakan bagaimana si tokoh merasa bahwa tidak ada lagi yang bisa diharapkan atau sesuatu yang patut dibanggakan dari hidupnya, maka dia bertekad menciptakan suatu sejarah yang pantas dikenang dari dirinya kelak. Dia berniat mengakhiri hidupnya dan meninggalkan wasiat surat yang meminta agar dalam pemakamannya nanti tidak ada air mata apalagi kesedihan. Dia menyebutnya pemakaman yang bahagia. Dalam suratnya, dia meminta pesta pemakaman yang meriah seperti layaknya pesta badut, dengan tawa yang lebar dan pakaian yang berwarna-warni. Suatu pemakaman yang aneh, mungkin itu yang terbersit di kepala kita saat membaca cerpen ini.

Sesungguhnya pemakaman yang bahagia seperti itu bukan cuma cerita khayalan penulis semata tapi benar-benar terjadi dalam masyarakat. Mungkin pernyataan ini membingungkan, tapi itu benar adanya. Contoh paling dekat dengan saya adalah prosesi pemakaman dalam budaya batak.

Dalam budaya batak, prosesi pemakaman itu memiliki tingkatan. Semakin berumur (tua) orang yang dimakamkan itu, maka semakin besarlah upacara adat yang dilakukan. Bukan hanya ada musik-musik atau tarian, tapi juga acara perjamuan yang besar. Suatu hal yang kontradiktif. Dan semua itu tentu saja membutuhkan dana yang sangat besar. Lalu pertanyaan yang muncul, bagaimana dengan pemakaman bagi keluarga miskin? Bagaimana mereka memenuhi biaya upacara adat yang demikian besar?

Pernah mendengar prestise lebih dari segalanya? Itu sebabnya tak jarang ada yang menabung selama hidupnya hanya untuk memenuhi biaya pemakamannya kelak. Bukan suatu hal yang asing, saat seseorang membangun tugu atau kuburannya padahal sama seperti kita, dia juga tidak tahu kapan kematian akan menghampirinya.

Tapi terlepas dari kontroversi upacara ini, ada hal yang menjadi pelajaran penting yang bisa dipetik. Bahwa hidup itu sebentar (tidak kekal), kita mesti berjaga-jaga agar tidak meninggalkan semacam penyesalan atau bahkan menyusahkan orang-orang yang ditinggalkan . Bukan cuma dalam hal materi tapi juga berkaitan dengan janji atau pekerjaan yang mungkin belum selesai.

when life ends, the mistery of life begins


Dan lagi-lagi saya meminta maaf karena meracau sembarangan di siang bolong ini. sama sekali tidak berniat menggurui apalagi sok menasehati. Selamat hari minggu semuanya.



SGA: Hujan, Senja, dan Cinta

                             

Karena ia mencintai dia, dan dia menyukai hujan, maka ia menciptakan hujan untuk dia
Begitulah hujan itu turun dari langit bagaikan tirai kelabu yang lembut dengan suara yang menyejukkan. Dia sudah tahu saja dari mana hujan itu datang.duduk di depan jendela, diusapnya kaca jendela yang berembun. Jari-jari-nya yang mungil mengikuti aliran air yang menurun perlahan di kaca itu.
”Hujan, o hujan …” Dia berbisik.
Dia begitu berbahagia menyadari cinta kekasihnya yang begitu besar, sehingga menjelma hujan yang selalu dirindukannya. Dia tahu betapa ia selalu memberikan yang terbaik untuk dirinya. Dia terharu dengan cinta yang membuat segala benda dan peristiwa menjadi bermakna. Dia memandang keluar jendela, menembus tirai kelabu, melewati desau pohon-pohon bambu yang basah dan berkilat dalam hujan dan angin, mengirimkan getaran cinta yang melesat sepanjang langit mnuju kekasihnya di balik kabut. Kilat berkeredap dan guntur menggelegar diatas gunung dalam pertemuan cinta yang panas dan membara.
Hujan itu tidak pernah meninggalkan dia lagi. Hujan itu selalu mengikutinya ke mana pun dia pergi. Ke mana pun dia datang, datang pula hujan ke tempat itu. Sambil menyetir, dari dalam mobil selalu diusapnya kaca jendela. Dingin hujan itu dirasakannya sebagai dekapan hangat kekasihnya. Cinta itu abstrak, pikirnya selalu, sepasang kekasih tidak usah selalu bertemu, selalu berciuman, dan selalu bergumul untuk mempersatukan diri mereka. Cinta membuat sepasang kekasih saling memikirkan dan saling merindukan, menciptakan getaran cinta yang merayapi partikel udara, melucur dan melaju ke tujuan yang sama dalam denyutan semesta. Dari milan, dari Kyoto, dari Jakarta…
Terkadang dibukanya jendela mobil, ditadahinya air hujan dengan tangannya, lantas direguknya. Begitulah caranya cinta meresap kedalam tubuh, menjadi bagian dari alam. Meskipun bukan musim hujan, selalu ada hujan yang turun hanya untuk dirinya. Bila dia keluar  rumah, lenyap pula hujan. Hujan itu mengikuti mobilnya sepanjang jalan. Sepanjang jalan yang dilaluinya menjadi basah karena hujan, dan hanya jalan yang dilaluinya saja menjadi basah dan sejuk sebentar karena hujan yang turun ke bumi mengikuti dia atas nama cinta.
”Heran,” kata pembantu rumah tangga di rumahnya, ”setiap kali ibu pergi, hujan berhenti, kalau Ibu datang, hujan lagi.”
”Heran,” kata kawan-kawannya, ”belakangan ini, asal kamu datang pasti hujan, kamu pergi hujan hilang. Padahal bukan musim hujan.”
Suaminya, yang selalupeka terhadap suasana hati istrinya, menadahi air hujan itu, dan membawanya ke laboratorium.
”Ah, ini hujan karena cinta,” katanya kemudian, ”siapa lagi yang jatuh cinta kali ini?”
Dia terkesiap dalam hati. Tapi wajahnya dingin saja.
”Tidak ada apa-apa. Kenapa sih?”
”Kamu kira bisa menutupi perasaanmu yang berbunga-bunga?”
Dia diam saja. Memang hatinya berbunga-bunga.
Diluar hujan masih saja menderas. Air hujan menganak sungai disela-sela rumput, dedaunan basah dan bergoyang-goyang. Tanpa diketahui suaminya dia mengusap seluruh embun disetiap kaca jendela rumah dengan kedua telapak tangannya., lantas membasuh wajahnya. Tubuhnya bergetar dan jiwanya menangis karena terharu. Hujan yang sangat disukainyatak pernah lenyap lagi dari hidupnya. Kekasihnya yang tak terlihat telah mengirimkannya dari jauh atas nama cinta, hanya untuk dirinya saja.
”Hujan, o hujan” desahnya sembari memandang keluar jendela setiap malam.
***
Kemudian tibalah saat ketika cinta diantara dia dan ia memudar. Sebarapa lama sih umur cinta? Hujan yang semula mewakili perasaan cinta yang dahsyat itu sekarang terasa sangat menganggu.
”Cinta kita sudah berakhir, kenapa hujan itu masih saja mengikuti aku ke mana-mana? Lihat  semua orang jadi terganggu. Setap keluar mobil aku harus pakai payung. Jalan-jalan di halaman rumah sendiri harus pakai jas hujan. Gimana dong?  Kasihan tamu-tamuku. Dimana-mana asal orang berurusan denganku menjadi kehujanan dan basah. Bisa nggak kamu tarik hujanmu ini?”
”Mana bisa? Hujan itu akan selalu ada selama aku masih mencintai kamu.”
”Kamu kira aku senang dicintai kamu? Nggak usah cinta-cintaan lagilah. Tarik hujanmu ini.”
”Sudah kubilang, selama aku mencintai kamu, tidak bisa.”
”Kalau begitu jangan mencintai aku. Bikin repot saja.”
”Bukan salahku. Siapa yang cintanya memudar? Dulu minta-minta dikasih hujan, sekarang omongannya begitu.”
”Bukan salahku aku tidak mencintai kamu lagi. Cewek seabreg begitu. Mana kutahu kamu tetap setia?”
”Aku tetap setia. Menyentuh pun aku tidak pernah.”
”Bukan itu ukuran kesetiaan”
”Apa dong?”
”Sudah kubilang cinta itu abstrak.”
”Tidak.”
”Menurut kamu?”
”Cinta itu konkret.”
”Buktinya?”
”Hujan itu.”
Ia dan dia betengkar sampai malam sambil minum bir plethok. Aneh sekali. Mereka bahagia dalam pertengkaran itu. Barangkali karena mabuk.
”Setidaknya kita masih punya perasaan,” meraka merumuskan setangah mabuk.
Namun hubungan mereka tidak tertolong. Semenjak pertemuan terakhir itu, ia dan dia tidak pernah berjumpa lagi. Meskipun begitu hujan itu tetap mengiringi dia. Perempuan itu selalu bisa melihatnya dari balik jendela loteng, dimana dia mengalihkan cintanya melalu e-mail ke seluruh dunia.
”Masih cinta juga tuh si doi sama istri macam kamu?” suaminya menyindir.
Dia tak pernah menjawab. Tapi dia tahu jika ia masih mencintainya.
***
Sulit sekali bagi ia untuk tidak mencintai dia. Selama itu pula ia tidak mampu menarikkembali hujan cintanya yang menderas dari langit.
”Pikirkan saja istri kamu,” kata istrinya yang menangkap kegelisahan suaminya, ”jangan istri orang lain jadi beban pikiran.”
Ia tak pernah menjawab, karena tidak ada yang bisa dijelaskan. Setiap kali ia melewati jalan layang yang terlihat di mana sepetak hujan itu berada, tapi ia sudah tidak menghendaki perjumpaan macam apapun. Hatinya hancur berantakan seperti keramik jatuh ke landasan dari pesawat kargo yang sedang take off. Dengan kesal dihapusnya nomor-nomor telepon dia dari hand-phone, namun ini hanya membuat ia semakin kesal, karena toh masih hapal juga. Terlalu banyak hal dari dia telah meresap kedalam dirinya dan tak mungkin dihapus untuk selama-lamanya. Gambar-gambar, foto-foto, kata-kata. Waktu meninggalkan jejak, begitu pula saat-saat yang dilaluinya bersama dia. Segenap makna perjumpaanya meresap kedalam hatinya dan ia tidak bisa melupakan dia. Ia tak bisa lagi memandang segala sesuatu didunia ini seperti sebelum berjumpa dengan dia, ia tak bisa lagi berpikir di luar cara berpikir seperti dia. Mereka telah berpisah, tapi tidak terpisahkan. Begitukah caranya cinta berada? Pikirnya. Tapi setiap kali berpikir ia teringat dia. Maka ia berusaha berhenti berpikir. Ia marah sekali dengan cinta.
”Taik kucing dengan cinta,” umpatnya dalam hati.
Namun pada suatu senja yang gemilang, cinta jualah yang menyelamatkanya, ketika seorang dia yang lain muncul kembali dari balik kenangan yang sudah terhapus. Dia tidak berkata apa-apa, seperti kutipan sebuah saja: Tidak ada janji | pada pantai.2 
Ia pun tahu, tak ada janji pada perjumpaan yang manapun – tapi janji-janji memang tidak diperlukannya, karena janji sebuah cinta yang paling mebara sekali pun hanyalah janji seuatu senja yang terindah. Kecuali di negeri senja, adakah senja yang tidak berakhir?
”kuberikan segalanya untukmu,” katanya kepada dia, ”kuberikan cintaku, jiwaku, hidupku, apa saja yang kau mau.”
Dia hanya tersenyum menghela napas, memandang senja yang dipantulkan kaca-kaca gedung bertingkat.
”Lihatlah senja di kaca gedung itu,” kata ia kepada dia.
”Kenapa?”
”Bila engkau melewati jalan ini, senja itu masih akan berada disana, selama-lamanya.”
”Bisa?”
”Bisa sekali, selama engkau masih mencintaiku.”
”Aku tidak pernah mengatakan apa-apa kepadamu.”
”Tidak perlu. Senja itu sudah mengatakannya.”
Dia melihat langit senja yang menjadi abadi di kaca-kaca gedung bertingkat itu. Dia tahu betapa sulitnya melihat matahari tenggelam di Jakarta. Tapi kini ia telah mengabadikan senja ke kaca-kaca gedung bertingkat untuk dirinya saja. Dia bahagia sekali, namun tidak bisa berkata apa-apa. Ia pun tidak berkata apa-apa.
Mereka berdua menatap langit, kubah senja yang merah membara bagaikan sebuah impian yang menjanjikan bahwa Negeri Senja memang betul-betul ada. Tapi langit yang semburat kemerah-merahan itu hanyalah sebuah janji yang sebaliknya. Setiap detik terjadi perubahan warna, dari merah yang membara sampai memancar keemas-emasan ketika matahari mestinya telah terbenam. Mereka tak bisa melihat matahari di balik gedung. Senja yang keemasan-emasan itu kemudian dengan pasti menggelap, semakin gelap, dan menjadi malam. Bagi mereka yang terbiasa mengamati senja, akan selalu tahu bahwa senja belum betul-betul berakhir ketika matahari terbenam, dan senja masih juga berbisiki-bisik ketika langit jadi gelap dan permukaan air laut yang tadinya berwarna emas seolah-olah mendadak lenyap, tinggal kecipak suara lidah ombak. Pada saat seperti itu, sebuah renungan telah mencapai kesimpulannya.
Namun mereak tidak berada di pantai. Mereka di tengah kemacetan jakarta yang tidak membri peluang untuk kalimat yang – seperti kutipan sebuah sajak–-bisa berlarat-larat .3
”Mengapa kita tidak mencari bir plethok,” ujar perempuan itu.
Ia mengangguk. Ia berkesimpulan, banyak perempuan Jakarta suka bir plethok.4
***
Dia memandang keluar jendela lagi pagi itu. Sudah beberapa minggu ini diperhatikannya hujan itu berubah, dulunya lumayan deras, sekarang kederasannya lumayan berkurang, meski belum jadi gerimis.
”Apakah cintanya mulai berkurang?” pikirnya.
Kali ini dia sendiri yang menadahi air hujan itu dengan sebuah gelas, dan membawanya ke laboratorium.
Cinta mulai berkurang. Begitu tertulis dalam kertas laporan, dan dia merasa kecewa. Aneh, dia sendiri yang dahulu menolak hujan itu, dan sekarang ketika hujan itu menujukkan tanda-tanda mereda, dia merasa penasaran.
”Kenapa cintanya bisa berkurang? Cinta itu mestinya abadi dong!”
Dengan setengah panik dia memencet-mencet handphone, tapi tiada jawaban. Dia kirimkan sebuah lagu kelompok Queen melewati voice mail. Sebuah lagu yang menjerit:I Stil Love Youuuu! 5 
Tapi semuanya sudah terlambat. Pada senja hari itu juga hujan yang selalu mengikuti kemana pun ia pergi berubah menjadi gerimis dan akhirnya berhenti sama sekali.
”Hujan, o hujan, kemana kamu hujan,” desahnya
Pada senja hari itu dia menatap keluar dari jendela lotengnya, dilihatnya langit yang kemerah-merahan. Langit begitu cerah. Hujan sduah berhenti. Dia tahu betapa ia menyukai langit senja yang kemerah-merahan seperti itu. Dia ingin mengirimkan senja itu kepadanya, sebagai tanda bahwa dia masih mencintainya – mungkin cintanya memang masih ada sedikit, mungkin agak banyak, mungkin pula hatinya tak pernah berubah sebetulnya, tak jelaslah. Saat itu, detik itu, dia ingin sekali.
Dia menatap langit senja di kejauhan sana, dan tahu itu bukan miliknya. Dia menghela napas dan berusaha mengatasi perasaanya.

”Mungkin aku terlalu sentimentil,” pikirnya.6

Pondok Aren, Minggu 30 Juli 2000 ( harian Kompas, 13 Agustus 2001)

1. Dalam cerita ini, ia adalah kataganti orang ketiga lelaki, dan dia adalah kata ganti orang ketiga perempuan.
2. Dari sajak Goenawan Mohamad, pada sebuah pantai: interlude(1973)
3. Ibidem
4. Cocktail dengan unsure bird an tequila
5. Dari lagu Love of My Love dalam album Live Killers (Juli 1979) vocal oleh Freddy Merkuri (1946-1991)
6. Sajak Pada sebuah Pantai: Interlude(1973) dimulai dengan: semua ini hanya terjadi dalam sebuah sajak sentimentil

SGA: Jawaban Alina

"Sukab yang malang,
Senja yang kau kirimkan sudah kuterima, kukira sama lengkap seperti ketika engkau memotongnya di langit yang kemerah-merahan itu, lengkap dengan bau laut, desir angin dan suara hempasan ombak yang memecah pantai. Ada juga kepak burung-burung, lambaian pohon-pohon nyiur dalam kekelaman, sementara di kejauhan perahu layar merayapi cakrawala dan melintasi matahari yang sedang terbenam. Aku pun tahu Sukab, senja yang paling keemas-emasan sekalipun hanya akan berakhir dalam keremangan menyedihkan, ketika segala makhluk dan benda menjadi siluet, lantas menyatu dalam kegelapan. Kita sama-sama tahu, keindahan senja itu, kepastiannya untuk selesai dan menjadi malam dengan kejam. Manusia memburu senja kemana-mana, tapi dunia ini fana Sukab, seperti senja. Kehidupan mungkin saja memancara gilang-gemilang, tetapi ia berubah dengan pasti. Waktu mengubah segalanya tanpa sisa, menjadi kehitaman yang membentang sepanjang pantai. Hitam, sunyi dan kelam.
Rupa-rupanya dengan cara seperti itulah dunia mesti berakhir. Senja yang engkau kirimkan telah menimbulkan bencana tak terbayangkan. Apakah engkau tahu suratmu itu baru sampai sepuluh tahun kemudian? Ah, engkau tidak akan tahu Sukab, seperti juga engkau tidak akan pernah tahu apa yang terjadi dengan senja yang kau kirimkan ini. Senja paling taik kucing dalam hidupku Sukab, senja sialan yang paling tidak mungkin diharapkan manusia.
Senja ini baru tiba setelah sepuluh tahun, karena tukang pos yang jahil itu rupanya penasaran dengan cahaya merah kemas-emasan yang memancara dari amplop itu Sukab. Cahaya itu telah mengganggunya semenjak ia menggenjot sepeda dari kantor pos, berkilau-kilau dan memancar di tas surat yang tergantung di boncengan sepeda, begitu rupa sehingga cuaca siang hari menjadi kacau, angin menderu dan ombak terdengar menghempas-hempas, meskipun ia bersepeda mendaki bukit kapur. Demikianlah, maka ia suatu ketika berhenti. Dari dalam tas itu terdengar suara-suara, ia buka tas itu, dan ia melihat amplop Federal Express yang sudah tidak putih lagi melainkan merah keemas-emasan Sukab, seperti senja dengan matahari terbenam di balik cakrawala. Tukang pos itu mengambil amplop tersebut, menimang-nimangnya, agak berat juga. Maklumlah bukankah amplop itu berisi senja Sukab? Senja dengan matahari merah membara yang turun perlahan-lahan di balik cakrawala, seperti semua senja yanga ada di balik kartu pos, tapi yang kamu kirim itu bukan kartu pos Sukab, yang kau kirim itu senja di tepi pantai dengan hempasan ombak, bau laut dan angina yang asin. Kamu pikir berapa ton beratnya pasir di sepanjang pantai itu Sukab? Kira-kira sedikit dong! Masih lumayan tukang pos itu kuat menggenjot sepedanya mendaki bukit kapur. Busyet. Kalo anak-anak kecil tahu ada matahari terbenam di dalam amplop itu lantas bagaimana? Kau tahulah sukab, anak-anak di daerah bukit kapur begini tidak punya mainan yang aneh-aneh seperti di kota. Mereka hanya tahu kambing dan kerbau, ikan dan belut, sungai dan jagung. Nasi saja jarang meraka sentuh. Anak-anak yang tidak pernah tahu mainan robot berjalan dengan cahaya didadanya berkedip-kedip pasti akan penasaran sekali dengan cahaya senja yang memancar berkilauan., berkilauan merah dan keemas-emasan itu Sukab.
Mereka tidak pernah melihatnya Sukab, karena tukang pos itulah yang telah mendahului meraka. Ia menimang-nimang bungkusan berisi senja itu, mendengar-dengarkan, dan akhirnya mengintip. Tentu saja didalam amplop itu dilihatnya senja Sukab. Senja terindah yang paling mungkin berlangsung di muka bumi. Ia mengintip dan terpesona. Ia buka amplop itu. Sebetulnya menurut kode etik profesi itu tidak boleh. Tapi manusia manapun bisa melakukan kesalahan bukan? Ia buka terus amplop itu, dan melihat senja dengan langit merah kemas-emasan didalam sana, dan melihat mega-mega berpencar seperti perahu di danau, memebrikan perasaan nyaman dan tenang.  Siapa yang tidak suka merasa nyaman dan tenang di dunia Sukab, di sebuah dunia  yang miskin masih bersimbah darah pula? Maka jangan salahkan tukang pos itu Sukab, jika ia kemudian menjadi begitu penasaran dan memasuki senja yang terbentang. Tidak ada yang tahu apa nasib waktu(1). Ketika anak-anak akhirnya berkerumun di sekita sepeda yang tergeletak itu, mereka hanya melihat cahaya senja yang kemerah-merahan yang semburat membakar langit. Amplop itu hanya bocor sedikit, tapi akiatnya sudah begitu rupa. Ini semua gara-gara kamu Sukab.
Sukab yang malang, bodoh dan tidak pakai otak,
Sepuluh tahun lamanya tukang pos itu mengembara didalam amplop, kita tidak pernah tahu apa yang diklakukanya disana. Apakah dia kawin, beranak pinak, dan berbahagia? Atau selama itu dia hanya duduk saja memandang matahari terbenam dengan perasaan kehilangan, sementara langit yang tadinya merah keemas-emasan perlahan-lahan menggelap kebiru-biruan – aku juga tidak tahu bagaimana caranya menikmati senja di dalam amplop Sukab, sebuah ruang yang sungguh-sungguh terdiri dari waktu. Apakah waktu bisa diulang atau bagaimana, aku belum pernah memasuki senja di dalam amplop. Atau, apakah didunia ini sebetulnya seperti didalam amplop ya Sukab, dimana kita tidak tahu apa yang berada di luar diri kita, dimana kita merasa hidup penuh dengan makna padahal yang menonton kita tertawa-tawa sambil berkata, “Ah, kasihan betul manusia.” Apakah begitu Sukab, kamu yang suka berkhayal barangkali tahu. Tapi aku tidak mau khayalan, aku tidak mau kira-kira, meskipun usaha kira-kira itu begitu canggihnya sehingga disebut ilmiah, aku mau tahu yang sebenarnya. Apakah ada yang menyaksikan kita sambil tertawa-tawa? Kalau iya, apalah artinya hidup kita ini sukab? Tidakkkah nasib manusia memang seperti ikan, yang diternakkan hanya unutk mengisi akuarium diruang tamu seseorang yang barangkali juga tidak teralalu peduli kepada makna kehidupan ikan-ikan itu?
Aku tidak pernah tahu, tidak ada seorang pun yang tahu apa yang dialami tukang pos itu didalam amplop, sampai ia keluar sepuluh tahun kemudian dengan wajah bahagia. Ia sudah sepuluh tahun menghilang didalam amplop, tapi ia tidak tampak betambah tua. Apakah waktu di dalam amplop tidak bergerak? Tepatnya apakah senja didalam amplop tidak berhubungan dengan waktu? Apakah tidak ada waktu di dalam amplop Federal Express itu? Hmm. Apakah aku harus peduli dengan semua ini sukab, apakah aku harus peduli? Kamu betul betul merepotkan aku Sukab, dasar lelaki tidak tahu diri.
Sukab yang malang, goblok dan menyebalkan,
Kamu tahu apa yang terjadi sepuluh tahun kemudian? Tukang pos itu tiba di depan rumah kami. Ya, rumah kami. Setelah sepuluh tahun banyak yang terjadi dong Sukab, misalnya bahwa kemudian aku kawin,  beranak pinak dan berbahagia. Jangan kaget. Dari dulu aku juga tidak mencintai kamu Sukab. Dasar bego dikasih isyarat tidak mau mendengarkan. Sekali lagi, aku tidak mencintai kamu. Kalau toh aku kelihatan baik selama ini padamu, terus terang harus ku katakana sekarang, sebetulnya aku cuma kasihan. Terus terang aku kasihan sama kamu Sukab, mencintai begitu rupa tapi tidak tahu yang kamu cintai sebetulnya tidak mencintai kamu. Makanya jangan terlalu banyak berkhayal Sukab, pakai otak dong sedikit, hanya dengan begitu kamu akan selamat dari perasaan cintamu yang tolol itu. Tapi bukan cinta taik kucing ini yang sebetulnya ingin ku ceritakan padamu Sukab.  Soal cinta ini sama sekali tidak penting.
Kamu harus tahu apa akibat perbuatanmu ini Sukab, mengirim sepotong senja untuk orang yang sama sekali tidak mencintai kamu. Tahu apa akibatnya? Begitu tukang pos itu pulang, setelah menceritakan kenapa kiriman Federal Express bisa terlambat sepuluh tahun, kubuka amplop berisi senja itu, dan terjadilah semua ini. Apa kamu tidak tahu Sukab, senja itu meski cuma sepotong, sebetulnya juga semesta yang utuh? Kamu kira matahari terbenam itu besarnya seperti apa? Seperti apem? Kalau sepotong senja itu di dalam amplop terus sih tidak apa-apa, tapi ini keluar dan lautnya membludag tak tertahankan lagi. Bagaimana aku tahu amplop itu berisi senja Sukab? Aku bukan pengkhayal seperti kamu. Hidupku penuh dengan perhitungan yang matang. Aku tahu betul untung rugi setiap perbuatan, terutama apa untung ruginya untuk diriku sendiri. Betapa pentingnya hidupku selamat, demi suamiku dan anak-anakku. Pura-puranya aku ini juga perempuan yang setia. Itu pula sebabnya, sebelum maupun sesudah kawin aku tidak sudi berhubungan dengan kamu Sukab. Lagi pula aku tidak mencintai kamu. Mau apa? Tapi kamulah yang tidak tahu diri, mengirim senja tanpa kira-kira. Dunia ini jadi berantakan tahu? Berantakan dan hancur lebur tiada terkira.
Setelah amplop itu kubuka dan senja itu keluar, matahari yang terbenam dari senja dalam amplop itu berbenturan dengan matahari yang sudah ada(2). Langit yang biru bercampur aduk dengan langit yang kemerah-merahan yang terus menerus berkeredap menyilaukan karena cahaya keemas-emasan yang menjadi semburat tak beraturan. Senja yang seperti potongan kue menggelegak, pantai terhampar seperti permadani di atas bukit kapur, lautnya terhempas langsung membanjiri bumi dan menghancurkan segala-galanya. Bisalah kau bayangkan Sukab, bagaimana orang tidak panik dengan gelombang raksasa yang tidak datang dari pantai tapi dari atas bukit?
Air bah membanjiri bumi seperti jaman Nabi Nuh. Dunia menjadi gempar, tidak semua perahu yang ada cukup untuk seluruh umat manusia kan? Lagipula sampai kapan kapal dan perahu itu bisa bertahan? Tiada satu kota pun yang selamat, lautan dari senjamu yang membuat langit merah membara itu menghempas dan membanjiri bumi dengan cepat sekali. Gedung-gedung pencakar langit di setiap kota besar di seluruh dunia, gunung-gunung tertinggi di muka bumi, semuanya terendam air. Sukab, bumi ini sekarang sudah terendam air. Dimana-mana air dan langit senja tak kunjung berubah menjadi malam. Segalanya kacau Sukab, gara-gara cintamu yang tak tahu diri.
Sukab yang malang, paling malang, dan akan selalu malang,
Aku menulis surat ini dengan kertas dan pena terakhir di dunia, di atas puncak himalaya. Di depanku ada senuah sampan kecil dengan sepasang dayung dan sebungkus supermi. Itulah makanan terakhir di muka bumi. Sisa manusia yang menjadi pengembara lautan di atas kapal dan perahu telah mati semua, karena kehabisan bahan makanan maupun mayat teman-temannya sendiri. Manusia memang banyak akal, tapi menghadapi senja dari dalam amplop itu tidak ada jalan keluar. Banyak orang mempertanyakan diriku, kenapa aku membuat dirimu begitu cinta menggebu-gebu, padahal cinta secuil pun juga tidak, sehingga kamu mengirimkan sepotong senja itu kepadaku, dan tumpah ruah membanjiri bumi. Tapi coba katakan, tapi itu bukan salahku toh Sukab? Aku tidak mau disalahkan atas bencana yang menimpa umat manusia. Mengapa cinta harus menjadi begitu penting sehingga kehidupan terganggu? Ini bukan salahku.
Air laut kulihat makin dekat, setidaknya setengah jam lagi tempat aku menulis surat ini sudah akan terendam seluruhnya. Aku akan naik perahu, mendayung sampai teler, makan supermi mentah, lantas menanti maut. Akan ku kirim kemana surat ini? Barangkali kamu pun sudah mati Sukab. Semua pengembara di lautan sudah mati.  Sedangkan di puncak tertinggi di dunia ini tinggal aku  sendiri, dari hari kehari memandang senja yang selesai, dimana matahari tidak pernah terbenam lebih dalam lagi. Semesta dalam amplop itu telah menjadi pemenang dalam benturan dua semesta, namun semesta dalam amplop itu cuma sepotong senja, sehingga dunia memang tidak akan pernah sama lagi. Kalu aku mati nanti, bumi ini akan tetap tinggal senja selama-lamanya. Dengan matahari terbenam separuh yang tidak pernah turun lagi. Langit merah selama-lamanya, lautan jingga selama-lamanya, tetapi tiada seorang manusia pun memandangnya. Segenap burung sudah punah karena kelelahan terbang tanpa henti. Tinggal ikan-ikan menjadi penguasa bumi. Di kejauhan, ku lihat Ikan Paus Merah yang menjerit dengan sedih.
Sukab,
Aku akan mengakhiri surat ini, akan ku lipat menjadi perahu kertas, dan ku layarkan ke laut lepas.  Buakn tidak mungkin surat ini akan terbaca juga, entah bagaimana caranya, namun siapa pun yang menemukannya akan membaca kesaksianku. Jika tidak, aku pun tidak tahu apa nasib waktu(3). kupandang senja yang abadi sebelum melipat surat ini. Betapau semua ini terjadi karena cinta, dan hanya karena cinta – betapa besar bencana telah ditimbulkannya ketika kata-kata tak cukup menampungnya. Kutatap senja itu, masih selalu begitu, seprti menjanjikan suatu perpisahan yang sendu.
   
Selamat berpisah semuanya. Selamat tinggal.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Catatan: dipublikasikan pertama kali sebagai Alina’s Reply, terjemahan Michael H. Bodden; dalam pembacaan berbahasa Inggris untuk publik pada Fiction Reading, Departemen of Writing, University of Victoria, 10 Oktober 2001.
6.25.2011 | By: Fairynee

Day 01: Surat tanpa Arah

Dear,


Aku tahu kamu pasti akan bingung saat menerima surat ini. Kamu pasti akan berkomentar sambil mentertawakan ulahku yang kamu anggap konyol ini. Kenapa musti mengirim surat, bukannya  setiap saat aku bisa menekan tombol ponselku, mencari nomormu, lalu kita akan terlibat dalam perbincangan yang sangat panjang dan sebagian besar tidak penting. Bahkan baru kemarin kita saling berbagi cerita tentang banyak hal, termasuk kisah pertemuanmu dengan lelaki yang tiba-tiba menawarkan cinta dalam hidup ketika kau merasa apatis dengan yang namanya cinta. Kamu tahu, aku senang mendengarnya, setidaknya kamu tidak perlu lagi mengenang masa lalu yang menghancurkanmu dengan tindakannya yang plin-plan.

Kau pasti ingat pendapatku tentang masa lalumu itu. Sudah, jangan lagi memikirkan orang yang bahkan tidak bisa bertanggung jawab dengan pilihan yang dibuatnya sendiri. Hahaha, pendapat yang malah kontradiksi denganku (Tapi seperti kata pepatah, jangan lihat siapa yang menyampaikan tapi apa yang disampaikannya). Dalam hidup, kita musti memilih, iya atau tidak, maju atau mundur, menerima atau menolak, berjuang atau menyerah, dan kita tidak bisa menggenggam kedua-duanya. Dan kita telah menjalani pilihan-pilihan yang telah kita buat sendiri. Kau pasti ingat saat-saat kita duduk di bangku sekolah. Kita pernah menulis banyak impian, cita-cita, angan-angan dan bahkan racauan yang tidak penting sepanjang waktu kita, dan saat ini aku baru merasa betapa naifnya kita dulu karena hidup malah membawa kita pada kenyataan yang sangat berbeda dari semua itu.

Jujur saja, aku merasa sedikit iri denganmu. Dalam perjalananmu saat ini (yang tentunya merupakan pilihan hidupmu), kau menjalaninya dengan ikhlas meski dengan segala keterbatasan dan kekurangan. Banyak hal yang menyimpang dari rencana-rencana sebelumnya, tapi kau menjalaninya dengan santai, seolah-olah inilah pilihanmu itu, sementara aku? Ah.... Itu sebabnya aku sangat malu tiap kali mengeluh dan mengeluhkan hal pasti menurutmu tidak mensyukuri keadaan. Tapi kau berkata, itu merupakan suatu  kewajaran, hakikat hidup. Terkadang apa yang kita miliki terasa tidak lebih baik dari apa yang dicapai orang lain dan  merasa kalau mereka lebih beruntung. Hah! Padahal aku sering kali menuliskan itu dalam sajak-sajak, cerpen atau sekedar catatan-catatanku, tapi sangat sulit untuk diaplikasikan. Kau ingat, dalam pembicaraan kita yang kesekian, aku mengadu sambil menangis karena masalah pelik tentang pekerjaanku?

Kita memang pribadi yang berbeda, tapi itu yang membuat persahabatan kita indah.

Benar sekali, kau dengan kesederhanaan pemikiranmu, dan aku dengan pertanyaan-pertanyaan yang terkadang tidak masuk akal dalam kepalaku. Kau dengan segala keikhlasanmu menjalani takdir, sementara aku terus saja berkutat dalam pencarian arti hidup itu sendiri. Dan perbedaan itu yang sering kali menjadi topik pembicaraan kita, selain mengenai cinta tentunya.

Dan setelah membaca surat ini, kau pasti akan semakin mentertawakanku karena bahkan aku sendiri tidak tahu hal penting apa yang ingin kusampaikan padamu dalam surat ini karena semua itu telah kuceritakan sebelum dan sebelumnya lagi. Tapi ada yang pernah bilang padaku, ada perasaan-perasaan tersendiri saat menulis surat dan  tidak bisa diperoleh dengan mengetikkan pesan singkat, pembicaraan jarak jauh melalui telepon, atau bahkan menulis email sekalipun. Mungkin ini yang dimaksud olehnya. Perasaan-perasaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata. Hahaha, saatn ini pasti kau sedang menggumam, dasar penulis sinting, omongannya selalu saja tak masuk akal.


Baiklah, aku akan menyudahi racauanku ini. Aku hanya ingin bilang, aku sangat bersyukur karena memiliki sahabat sepertimu, dan ingin sekali mengenalkanmu dengan duniaku yang dipenuhi orang-orang hebat. Aku ingin mengenalkanmu dengan teman-teman lainnya yang banyak menginspirasi dan mengajarkanku bagaimana mewarnai hidup, menjalani tiap fase, dan cara menjinakkan hal-hal gila dalam kepalaku. Kau sudah sering  mendengar perihal mereka dalam percakapan-percakapan kita sebelumnya, bukan? Ah, aku ingin sekali menarikmu dari dunia sempit itu, dan mengajakmu menjelajah dunia luas   yang katanya banyak menyimpan pengalaman-pengalaman fantastis.


Ohya, kau mesti memikirkan, apa yang akan kita lakukan menjelang perayaan hari lahir kita nanti. Kau pasti mengingat rencana kita sebelumnya, bukan?


Salam sayang,

Day 01: Everlasting Moment


Kalau berbicara tentang lagu-lagu kesukaan, tentu saja akan menjadi satu daftar yang panjang. Aku sangat menyukai lagu-lagu dari Westlife, Bryan Adams, Naff, Kla Project, Judika, Shania Twain, dan masih banyak lagi. Tapi berhubung yang diminta dalam proyek ini hanya satu lagu, dan mesti berbagi juga dengan hari-hari selanjutnya, jadi saya memilih lagu ini, karena memang suka banget dengan si tante yang satu ini, lagunya juga banyak menginspirasiku buat mengkhayalkan cerita-cerita melodrama yang picisan. Lagipula kalau memilih dari lagu Westlife, aku malah bingung mau membahas lagu yang mana (fanatik sangat dengan boyband asal Irlandia itu, hehehe...)


From This Moment


(I do swear that I'll always be there.
I'd give anything and everything and I will always care.
Through weakness and strength, happiness and sorrow,
for better for worse, I will love you with
every beat of my heart)


From this moment life has begun
From this moment you are the one
Right beside you is where I belong
From this moment on

From this moment I have been blessed
I live only for your happiness
And for your love I'd give my last breath
From this moment on

I give my hand to you with all my heart
Can't wait to live my life with you, can't wait to start
You and I will never be apart
My dreams came true because of you

From this moment as long as I live
I will love you, I promise you this
There is nothing I wouldn't give
From this moment on

You're the reason I believe in love
And you're the answer to my prayers from up above
All we need is just the two of us
My dreams came true because of you

From this moment as long as I live
I will love you, I promise you this
There is nothing I wouldn't give
From this moment
I will love you as long as I live
From this moment on



--------------------------------------



Shania Twain merupakan penyanyi solo wanita yang super talented, dengan genre pop country. Lagu-lagu yang dibawakannya selalu menjadi everlasting songs bagi pencinta musik di dunia, termasuk diriku yang memang suka sekali yang berbau romantis dan mellow. Siapa sih yang gak tahu lagu You’re still the one, You’ve got away, Don’t be Stupid, dan masih banyak lagi (Jangan-jangan kamu pernah memiliki kenangan yang tak terlupakan dengan salah satu dari lagu-lagu tersebut). Salah satu yang selalu masuk dalam daftar playlistku adalah From This Moment, ada dalam album Shania Twain yang bertajuk Come On Over dirilis tahun 1997.


Lagu ini bercerita tentang perjalanan saat akan menyatakan janji suci di hadapan Tuhan. From This moment sering kali dibawakan pada acara pemberkatan atau resepsi pernikahan, dan saya telah memasukkan lagu ini dalam daftar wedding songs kelak (Khayalan tingkat tinggi yang super gak jelas, hehehehe...)


Selain dinyanyikan secara single, lagu ini juga beberapa kali dibawakan secara duet dengan beberapa penyanyi solo pria dan boyband seperti Bryan White, Bryan Adams, Backstreet Boys, dan kesemuanya tetap enak didengar.






Duet dengan Backstreet boys