9.15.2010 | By: Fairynee

WAJAH KEKASIHKU DI TELEVISI

 : Tasikmalaya, 2 September 2009
Kamu ingat,  
dulu aku sering memujimu. kataku, 
: kamu cantik, Euis… 
Saat itu. parasmu likat serupa laku kucing. manis

Sore ini. kau pun tetap terlihat cantik, meski
tetes kemerahan menggenang di sekujur tubuh, linangan
air mata bercampur debu
pun gurat-gurat lirih yang mungkin tak sempat melirih.

Kau tetap cantik, Euis… 
meski matamu terpejam dengan puing-puing melumur di rambut legammu yang dulu
selalu menjuntai bak mayang.
Pekik menyayat hati yang membaur di udara tak mengurangi cantikmu 

Aku sama sekali tak bohong, Euis… 
kamu masih terlihat cantik meski bibirmu
tak menggumankan senyum
matamu tak berbinar
lesung pipimu tak membentuk ceruk.
  
(ah, tiba-tiba saja aku merindumu; Aku ingin segera menjenguk puing-puing yang menimbun senyummu)

HUJAN

/1/
Kau pikir,
kemarau takkan beranjak karena
terik cuma sejengkal di atas kepala, tapi
sore tadi. hujan menghardik kemarau. lancang
: peraduanmu mulai tenggelam dalam resah


/2/
Setelah puas bercengkerama dengan hujan. tadi sore
kau pun berkata: Aku ingin melukis hujan
semenjak itu, gerimis tak kunjung mereda;
gigi pun beradu dalam gemerutuk
: ah, aku merindukan binar matamu. Sungguh

9.14.2010 | By: Fairynee

PERCAKAPAN MAKAN MALAM

Ibu, mengapa menekur bertopang sedih 
bukankah aku tak protes, tak pula merengek 

sudah kubungkam air mata. Tadi 

saat seiris letih, sekerat peluh tersaji di meja makan 

: sungguh, ini lebih dari cukup, bu…


(aku berjanji. Takkan mengaduh bila bilah pisau yang mengerat yang
mengiris kini mencincang-cincang lambungku. Aku takkan mengaduh)


Tebing Tinggi, 26 Agustus 2009

SEDERHANA

Aku tak punya apa-apa
tuk kuberikan padamu

cuma sepotong hatiku
 
: apa itu tidak cukup?


RUANG TUNGGU

 
 /1/
Duduklah sebentar 
Sekedar menikmati suhu rendah dari kotak pendingin , atau 
saksikan juga suguhan berita yang tak 
pernah jemu berkisah tentang air mata. 
Ah, usahlah gelisah 
Sebentar lagi takdir akan memberi penjelasan 
untuk tanya yang menggantung lancang di wajahmu.
 
 
/2/ 
Tengok saja ruang tak pernah berhenti menunggu
berbagai rupa tersaji bermakna bosan
segiris duka, air mata, mungkin juga rindu yang tak sempat di jenguk
tersembunyi, lebih memilih mendengkur dalam sunyi ketimbang
merangkai kata yang mungkin layak untuk diperdengarkan bila 
perjumpaan menjumpainya. Kelak.